Memperingati Hari Peduli Autis Sedunia 2014

Di Pusat Layanan Autis (PLA) Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 6 April 2014 telah memperingati Hari Peduli Autis Sedunia yang tepatnya jatuh setiap tanggal 2 April.

Bagi Bunga Memperingati Hari Peduli Autis Sedunia

Para Terapis dan Staff Pusat Layanan Autis (PLA) Kalimantan Selatan untuk memperingati Hari Peduli Autis Sedunia 2014 melakukan bagi bunga di perempatan traffic light Mesjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin.

Gerak Jalan

Dalam acara memperingati hari peduli autis sedunia 2014, Pusat Layanan Autis (PLA) Kalimantan Selatan mengadakan gerak jalan disekitar komplek perumahan di Jl. perdagangan, kuin utara-Banjarmasin.

PLA Kalsel Crew

"We Care Autism and We Love" .

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 04 Mei 2014

Misteri Autis yang Tak Terungkap



Temple Grandin pemuda autis yang sering dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya baik teman, keluarga, guru dan sahabat dekat setelah dia mengidap autis. Grandin panggilan akrabnya, mengembangkan pola kontak manusia  pada binatang. Pengembangan metode manusia tersebut dia terapkan pada binatang ternak yang ada di dekat rumahnya. Dengan merawat binatang-binang ternak tersebut Grandin mencoba metode buatanya.
Berangkat dari hal itu semua, Grandin membuktikan pada lingkungannya. Kesuksesannya pada dunia pendidikan ditorehkan hingga bergelar doktor. Kemampuan luar biasanya, ditularkan dengan mengajar orang-orang yang dahulunya sering mengucilkannya.
Sebuah cuplikan film yang berjudul Temple Grandin, perjalanan hidup yang dituangkan dalam sebuah film yang digarap apik oleh sang sutradara. Lewat film tersebut membuktikan bahwa seorang pemuda autis bisa menunjukan potensi dirinya meskipun terdiskriminasi oleh lingkungan.
Apa itu Autisme ?
Perjalan cerita Temple Grandin di atas tentunya menjadi motivasi besar tanpa memandang sebelah mata mereka penyandang autis. Autis dalam bahasa Yunani yang berati auto (sendiri), autis menyerang seseorang yang suka menyendiri. Autis merupakan gangguan perkembangan pada anak balita hingga usia tiga tahun. Bersikap cuek, menyendiri, tidak mau menatap mata, menyakiti diri sendiri, kecenderungan melakukan hal yang berulang, dan sulit untuk mengontrol gerak motoriknya menjadi ciri-ciri terkenanya gangguan perkembangan atau autis.
Autis ditemukan pertama kali oleh seorang ahli kesehatan jiwa bernama Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner menjabarkan tentang 11 pasien kecilnya yang berperilaku aneh yaitu asyik dengan dirinya sendiri, seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri dan menolak berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya.  Kanner menggunakan istilah “autism” yang artinya hidup dalam dunianya sendiri. Kanner berhipotesa bahwa pada anak autis terjadi gangguan metabolisma yang telah dibawa sejak lahir. Namun karena pada masa itu alat-alat kedokteran tidak memungkinkan Kanner melakukan penelitian, maka hipotesanya belum dapat dibuktikan. 
Perkembangan dan Sebab Autis di Indonesia
Autis telah ditemukan sejak tahun 1943, penyebab pasti akan gangguan autis yakni pada seorang anak memiliki kelemahan dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial dan berimajinasi dengan orang lain ini, masih belum diketahui. Terbatasnya informasi soal autis ini membuat banyak orangtua seringkali keliru dalam memahami dan menangani anaknya yang autis. 
Sejauh ini banyak disebut soal penyebab timbulnya autis. Mulai dari faktor gaya hidup, polusi udara, narkotika, makanan yang tercemar limbah, misalnya ikan laut, dan sayuran yang masih mengandung pestisida, keracunan logam berat, virus dari vaksin, alergi, dan lain-lain. Namun secara ilmiah medis, belum ada kesepakatan soal penyebab autis ini. Sebagian para ahli menduga adanya faktor genetis, tetapi ini pun belum ada bukti ilmiah yang sahih. 
Sementara, gejala autisme yang menyerang Indonesia muncul sekitar tahun 1990. "Gejala ini muncul pada siapa saja, tidak peduli ras, pendidikan maupun golongan ekonomi sosial," kata dr. Melly Budhiman Ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI).
“Kurangnya pengetahuan masyarakat Indonesia tentang autisme membuat penanganan yang dilakukan tidak maksimal. Padahal autisme membutuhkan penanganan jangka panjang, tidak bisa main instan alias cukup sekali datang” tambah dr Melly saat seminar di Graha Scovindo.
YAI melihat kurangnya tenaga profesional dalam menangani anak autis di Indonesia menjadi salah satu penyebab penanganan yang tidak maksimal. Hal ini masuk akal, sebab negeri ini baru mempunyai 40 psikiater anak yang khusus menangani masalah autisme. YAI sendiri memandang penting upaya sosialisasi mengenai autisme sehingga masyarakat bisa memahami secara benar informasi dan penanganannya. Serta dapat mengedukasi masyarakat yang belum mengerti autisme, sehingga tidak ada lagi penghinaan, ejekan, maupun pelecehan terhadap para penyandang autis. 
Penanganan autisme di Indonesia berjalan lambat, juga karena banyaknya permasalahan lain yang dihadapi. Permasalahan autisme di Indonesia terbilang rumit. Geografi negara kepulauan ini tidak mendukung untuk dapat menjangkau anak-anak autistik di pulau-pulau yang jauh dari pulau Jawa. Masyarakat Indonesia yang multietnis dan multikultur menyebabkan penanganan autisme sangat beragam. Entah sampai kapan penyandang autis akan bisa berkurang, riset-riset tentang autis yang belum mendalm dan terselesaikan tentunya akan menjadi bak misteri yang tak terungkap. *Athurtian
 
 
Sumber: Majalah Rumah Autis 2008  

Diet GFCF Baik Untuk Anak Autis



Obesitas atau kegemukan tampaknya menjadi hal yang harus dihindari. Berbagai macam obat diet dan cara diet banyak beredar di masyarakat. Dengan persentase yang menjanjikan bisa membuat tubuh Anda bisa lebih indah untuk dilihat. Namun, diet tidak hanya dilakukan Anda yang terkena obesitas atau sekadar memperindah bentuk tubuh. Ternyata diet juga dilakukan oleh anak-anak autis. Lantas bagaimana cara dietnya ?
Autis merupakan gangguan perkembangan yang menyerang anak pada usia balita hingga tiga tahun dengan deteksi dini lebih cepat. Gangguan perkembangan tersebut ternyata berpengaruh terhadap makanan yang dikonsumsi anak-anak autis.
Diet GFCF menjadi salah satu diet yang bisa dilakukan oleh anak autis, guna mencegah gangguan pencernaan lain yang mengakibatkan semakin parahnya perkembangan anak autis. Diet GFCF ialah diet Gluten Free Casein Free di mana anak penyandang autis menghilangkan konsumsi gluten dan casein.
Gluten merupakan protein yang terdapat pada tumbuhan. Sedangkan Casein merupakan phospo protein dari susu yang mempunyai struktur mirip gluten. Dalam proses pencernaan di saluran tubuh, makanan dipecah menjadi komponen komponen yang lebih sederhana sehingga dapat diserap oleh usus halus untuk dipergunakan oleh tubuh. Proses pemecahan menjadi bentuk sederhana ini dilakukan oleh enzim yang ada di saluran pencernaan.
Bahan makanan yang mengandung protein (yang terbentuk dari rangkaian beberapa asam amino) dalam saluran pencernaan dipecah menjadi asam amino tunggal dan bentuk paling sederhana inilah yang diserap oleh tubuh. Anak penyandang autis mempunyai masalah dalam proses  mencerna/ memecah protein gluten dan casein. Akibatnya struktur protein gluten dan casein dalam saluran cerna anak autis tidak terpecah sempurna menjadi asam amino tunggal melainkan masih dalam bentuk peptida ( rangkaian beberapa asam amino).
Lalu akan terjadi masalah di mana peptida akan keluar dari saluran pencernaan ( diserap oleh tubuh) masuk dalam ke dalam darah ( pada normal hal ini seharusnya tidak terjadi ) dan kondisi ini disebut Leaky gut  (Kebocoran saluran cerna) di mana dinding usus halus tidak mampu lagi menjadi dinding pemisah antara isi usus halus dan darah.
Cara Diet Untuk Anak Autis
Diet tersebut tentunya bisa dilakukan oleh orang tua penyandang autis. Diet GFCF bisa dilakukan dengan kontrol secara teratur. Diet GFCF baiknya dilakukan setiap minggu, dengan jadwal sebagai berikut:
Minggu ke I
Kurangi dan kalau mungkin hapuskan makanan yang berasal dari terigu dalam bentuk mie.
Solusi   : Cari makanan mirip mie yang berasal dari tepung beras.
Seperti : Bihun, rice spaghetti, corn spaghetti, rice & corn fetucinni, kwetiauw beras.
Minggu ke II
Selain mie di atas, kurangi atau kalau mungkin hapuskan makanan yang berupa biskuit. Biskuit yang ada di pasaran bebas terdiri dari susu, terigu, zat aditif (perenyah, pengawet, perasa, dll).
Solusi   : Cari biskuit dari tepung beras.
Seperti : Produk Oma Lina’s (Kue semprit, kue chocollatechip cookies, kue krispi)
Minggu ke III
Selain mie, biskuit, roti – kurangi atau kalau mungkin hapuskan makanan yang berupa roti. Roti biasanya dominan mengandung tepung terigu dan ragi.
Solusi   : Buatkan makanan yang bebas dari tepung  sebagai camilan.
Seperti : singkong goreng, ubi goreng, kentang goreng.
Minggu ke IV
Selain mie, biskuit, roti – kurangi atau kalau mungkin hapuskan makanan yang berasal dari susu sapi, seperti: susu bubuk untuk anak yang banyak di pasaran, keju – kurangi atau kalau mungkin hapuskan makanan yang berasal dari susu sapi, seperti: susu bubuk untuk anak yang banyak di pasaran, keju, coklat yang dijual di pasaran.
Solusi   : Susu kedelai dengan tambahan aroma pandan, aroma jahe, bisa juga ditambah dengan coklat Paskesz (bukan dari produk susu), susu kentang (Vance dari Free)
Bila diperlukan, kurangi atau hapuskan susu kedelai. Sebagai penggantinya, pakailah air tajin dari beras.
Minggu ke V
Selain mie, biskuit, roti, susu – kurangi atau kalau mungkin hapuskan makanan yang banyak mengandung gula, seperti: sirup, permen, minuman kotak yang dijual di pasaran, soft drink.
Solusi   : No sugar, ganti dengan gula merah, Stevia.
Minggu ke VI
Selain mie, biskuit, roti, susu, gula – atur buah-buahan yang biasa dikonsumsi anak. Hindari apel, anggur, melon, Selain mie, biskuit, roti, susu, gula – atur buah-buahan yang biasa dikonsumsi anak. Hindari apel, anggur, melon, tomat, jeruk, strawberry.
Konsumsi: pepaya, nenas, sirsak, kiwi. Bila perlu dalam bentuk pudding.
Diet GFCF tentu perlu kerjasama antara orang tua dan anak penyandang autis. Dengan diet GFCF perkembangan anak autis akan lebih baik dengan catatan hindari makanan yang mengandung pengawet, perasa, pewarna dan msg. *Athurtian

Menyelaraskan Pola Makan & Tipe Perilaku Anak Autis

JAKARTA--Anak dengan kebutuhan khusus seperti autisme cenderung memiliki alergi terhadap makanan. Perhatian orangtua terhadap pola makan  sangat diperlukan. Pasalnya, asupan makanan akan mempengaruhi tingkah laku anak.

Konsultan Anak berkebutuhan Khusus dari yayasan Medical Exercise Theraphy, Tri Gunadi mengatakan, hal pertama yang dilakukan orang tua sebelum menerapkan pola makan terhadap anak autis adalah mengetahui tipe dari perilaku anak, apakah termasuk ke dalam tipe Seeking Defensiveness (mencari) atau Bahavior Defensiveness (menghindar).

Pada tipe mencari, anak cenderung memiliki nafsu makan yang  besar dan senang mengunyah. Anak pada tipe ini memiliki kemungkinan terkena obesitas atau kelebihan barat badan. Berbeda dengan tipe mencari, tipe anak menghindar memiliki nafsu makan yang kecil bahkan cenderung menghindar dari makanan yang masuk melalui mulut.Selain itu, anak tipe ini tidak senang mengunyah. Artinya, anak langsung menelan makanan tanpa mengunyah terlebih dahulu.

"Hal ini penting untuk diketahui, karena berkaitan dengan terapi yang akan dijalankan si anak," tuturnya disela perkenalan acara London School Care Autisme yang digagas STIKOM LSPR yang berlangsung di Jakarta, Kamis (12/11).

Lebih jauh dia menjelaskan, bila sudah diketahui tipe si anak, langkah lanjutan yang diperlukan adalah memberikan pola makan yang tepat. Pada anak bertipe mencari, anak harus diberikan makanan bertekstur dan berpola. Maksudnya berpola, anak bertipe pencari dikenalkan dahulu makanan yang memerlukan proses mengunyah lebih lama baru diperkenalkan pada makanan bertekstur lembut. Dengan harapan, anak akan mudah kenyang hingga menghindarkan diri dari obesitas.

Pada anak bertipe menghindar dilakukan dengan pola terbalik. Anak harus diberikan makanan bertekstur halus terlebih dahulu sebelum diberikan makanan bertekstur kasar. Pasalnya, anak pada tipe menghindar begitu sensitif terhadap makanan. Bila tidak ditangani dengan baik berpotensi besar mengalami gizi buruk.

"Perlu disadari, seberapapun orang tua memiliki kemampuan finansial yang baik, pemenuhan kebutuhan gizi pada anak autis belum tentu sempurna," tegasnya.

Dia juga menggarisbawahi, anak dengan gangguan autis umumnya pada saat makan dipengaruhi dua hal yakni benda dan logo. Pada anak-anak autis begitu tertarik dengan apa yang dilihatnya. Misalnya, ketika anak melihat mie sebagai hal menarik maka dia akan mengkonsumsi mie terus menerus atau mungkin ketika dia melihat menu mie pada iklan yang dia lihat ditelevisi juga akan memberikan dampak yang sama. "Sebab itu, kecerdasan orang tua dalam memasukan konsep makanan akan berpengaruh terhadap pola makan si anak," tegasnya.

Metabolisme Berbeda


Usai mengetahui tipe anak, orang tua juga harus memahami bahwa anak dengan gangguan autis memiliki metabolisme yang berbeda dengan anak normal. Metabolisme yang berbeda disebabkan kelainan pencernaan yang ditemukan adanya lubang-lubang kecil pada saluran pencernaan, tepatnya di mukosa usus.

Kelainan lain terletak pada kesulitan memproses protein karena termasuk asam amino pendek yang sering disebut “peptide”. Peptide dalam keadaan normal biasanya hanya diabsorbsi sedikit dan sisanya dibuang, namun karena adanya kebocoran mukosa usus menjadikannya masuk ke dalam sirkulasi darah.

Di dalam darah peptide ini hanya sebentar, karena sebagian dikeluarkan lewat urine dan sisanya masuk ke dalam otak yang dapat menempel pada reseptor opioid di otak. Akibat dari itu, peptide akan berubah menjadi morfin yang dapat memengaruhi fungsi susunan syaraf dan dapat menimbulkan gangguan perilaku.

Sebabnya, anak pada gangguan autis harus menghindari makanan yang terklasifikasi menjadi dua yaitu Kasein (protein dari susu) dan Gluten (protein dari gandum). Pada orang sehat, mengonsumsi gluten dan kasein tidak akan menyebabkan masalah yang serius atau memicu timbulnya gejala.

Pada anak dengan gangguan autis, kedua zat ini yang sulit dicerna dan diterjemahkan otak sebagai morfin. Kadar morfin yang tinggi menyebakan anak menjadi lebih aktif, bahkan layaknya zat morfin pada narkotika dan obat-obatan terlarang akan berimbas pada kebalnya anak dari rasa sakit. "ini yang berbahaya, anak-anak bisa membahayakan dirinya karena adanya morfin," tukas Tri.

Meski demikian, tambahnya, bukan berati pemberian asupan makanan pada penderita autis menjadi sulit. Menurut Tri, orang tua tinggal menggantikan sumber makanan yang mengandung kasein dan gluten dengan bahan-bahan yang aman dari kedua zat tersebut. Contoh sederhana, ganti susu sapi dengan susu kedelai.

Oleh karena itu,Tri menyarankan orang tua untuk tidak terlalu khawatir anak-anak mereka tidak mendapatkan gizi yang lengkap. Tri justru meminta para orang tua untuk lebih aktif mencari informasi terkait asupan makanan yang tepat bagi si anak.

Peran Orangtua

Dari berbagai penelitian yang sudah dilakukan, rata-rata menyimpulkan orang tua merupakan faktor penyembuh paling mujarab. Pasalnya, keterikatan batin terhadap anak tak akan tergantikan dengan apapun. "Rasa sayang orang tua merupakan obat penyembuh bagi anak-anak ini," tukasnya.

Tri Gunadi merupakan salah satu orang tua yang dianugerahi anak-anak "istimewa". Anaknya yang bernama Enrico (7 tahun) telah mendertita gangguan autis pada usia 8 bulan.  Dirinya sempat merasa terkejut, bukan karena malu tapi lantaran dirinya adalah seorang konsultan autisme.

Pada akhirnya, dia menerima anugerah tersebut dengan lapang dada. Usai mengetahui anaknya menderita autis, dia lakukan pemeriksaan terhadap anak. Mulai dari ujung rambut hingga bagian dalam tubuh Enrico.

Selama 18 bulan dia melakukan tes demi mendapatkan penyembuhan tepat bagi si anak. Enrico merupakan anak yang telat belajar bicara. Dengan perjuangan yang keras, Tri usahakan agar si anak belajar berbicara. Usahanya pun tak sia-sia lantaran si anak akhirnya mampu belajar bicara dalam bahasa Indonesia dengan lancar. Dia pun memutuskan untuk mengenalkan bahasa inggris pada Enrico pada usia 4.5 tahun. Hasilnya, Enrico sudah mahir bertutur bahasa inggris.

Menurut Enrico, anak-anak autis dengan peran dan kasih sayang orang tua bisa berprestasi layaknya anak-anak normal. Hanya saja, orang tua harus ekstra sabar dan menunjukan kasih sayang yang lebih untuk si anak. Dengan kasih sayang itu, anak seolah dilindungi dan didukung. Terlebih saat anak sudah mencapai taraf remaja, dukungan orang tua menjadi penting.

Memasuki usia remaja, lingkungan merupakan tantangan bagi anak dengan gangguan autis. Bukan tanpa sebab, anak sering merasa frustasi bila merasa berbeda dengan anak-anak sebayanya yang normal. Maka dari itu, saran Tri, orang tua sudah harus mulai memberikan pengertian kepada si anak atas anugerah yang dimilikinya. cr2/rin


sumber : klik disini

Cermat Atur Pola Makan Anak Autis

JAKARTA--Anak dengan gangguan autis umumnya menderita alergi berat.  Sebab itu, perlu perhatian khusus dari para orang tua.

Perlu diketahui, anak-anak dengan gangguan autis memiliki kelainan metabolisme sehingga sulit mencerna makanan yang tergolong kasein (protein dari susu) dan Gluten (protein dari gandum).

Makanan tersebut tidak harus dipantang seumur hidup. Dengan bertambahnya umur anak, makanan tersebut dapat diperkenalkan satu per satu, sedikit demi sedikit.

Berikut beberapa saran yang dari pusat Terapi Tumbuh Kembang Anak (yamet) dan beberapa sumber lainnya untuk mengatur makanan secara umum pada anak-anak dengan gangguan autis, antara lain :
  • Berikan makanan seimbang dengan menggantikan makanan yang  mengandung kasein dan gluten dengan bahan-bahan lain untuk menjamin agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk keperluan pertumbuhan, perbaikan sel-sel yang rusak dan kegiatan sehari-hari.
  • Gula sebaiknya dihindari, khususnya bagi yang hiperaktif dan ada infeksi jamur. Fruktosa dapat digunakan sebagai pengganti gula karena penyerapan fruktosa lebih lambat disbanding gula/sukrosa.
  • Gunakan minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai, atau minyak olive sebagai pengganti minyak goreng konvesional.
  • Konsumsi banyak serat, khususnya serat yang berasal dari sayuran dan buah-buahan segar. Konsumsi sayur dan buah 3-5 porsi per hari.
  • Hindari makanan yang menggunakan food additive (zat penambah rasa, zat pewarna, zat pengawet).
  • Bila keseimbangan zat gizi tidak dapat dipenuhi, lantaran anak terlalu sulit menerima asupan makanan, maka pertimbangkan pemberian suplemen vitamin dan mineral (vitamin B6, vitmin C, seng, dan magnesium). Langkah ini harus dikonsultasikan dengan dokter.
  • Berikan makanan yang cukup bervariasi. Bila makanan monoton, maka anak akan bosan.
  • Hindari junk food seperti yang saat ini banyak dijual, ganti dengan buah dan sayuran segar. cr2/rin

sumber : klik disini

Diet, Senjata Utama Penanganan Anak Autis

SEMARANG--Diet secara teratur bisa menjadi senjata utama penanganan terhadap anak penderita autisme, kata peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, S.A. Nugraheni."Langkah ini biasanya belum terpikirkan oleh para orang tua yang memiliki anak autis," katanya usai menyampaikan hasil penelitian tentang "Perubahan Perilaku Anak Autis Pascaintervensi Diet Bebas Gluten Bebas Casein", di Semarang, Kamis.
Berdasarkan penelitian, katanya, sebagian besar anak autis, terutama pada tingkat lanjut, memiliki respons yang baik ketika mendapat makanan rendah kadar gandum, susu, dan produk sejenisnya. Beberapa hasil penelitian lainnya juga menyebutkan bahwa jenis makanan yang harus dihindari oleh penderita autis adalah makanan yang mengandung gluten, casein, glukosa, dan lemak. "Namun belum ditemukan bukti otentik," katanya.
Pihaknya dibantu peneliti dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, masing-masing M. Hakimi dan Y. Prawitasari, berinisiatif meneliti pengaruh diet bebas casein dan gluten terhadap perubahan perilaku anak-anak autis. "Kami melakukan konseling terhadap para orang tua yang memiliki anak autis secara mendalam melalui modul dan buku-buku tentang makanan yang bebas gluten dan casein yang dilakukan setiap dua minggu sekali selama tiga bulan," katanya.
Ia mengatakan, konseling tersebut perlu terus menerus untuk memonitor apakah diet bebas gluten dan casein masih dijalankan mereka. Hasil pengamatan, katanya, ternyata menunjukkan perubahan perilaku yang positif secara signifikan.
Dugaan sebelumnya, katanya, faktor psikologis memegang peranan penting terhadap timbulnya gejala autisme. Namun, katanya, berbagai penelitian dalam bidang metabolisme menunjukkan banyak anak autis yang mengalami berbagai gangguan metabolisme."Gangguan metabolisme yang banyak ditemui pada anak autis di antaranya alergi terhadap berbagai jenis makanan, pertumbuhan jamur dan 'yeast' yang berlebihan, gangguan pencernaan, dan keracunan logam berat," katanya.
Selain itu, katanya, terdapat kelainan yang ditemukan di usus anak autis berupa lubang-lubang kecil di mucosa usus dan meningkatnya permeabilitas usus yang dikenal dengan nama "leaky gut". Ia mengatakan, gluten (protein dari gandum) dan casein (protein dari susu sapi), keduanya adalah protein yang susah dicerna (peptide), terutama karena kebocoran mukosa usus yang berakibat masuk ke sirkulasi darah.
Namun, katanya, peptide tersebut tidak lama berada dalam darah, karena sebagian dari peptide itu dikeluarkan lewat urine dan sebagian lainnya masuk ke otak yang akan menempel pada reseptor opioid. "Apabila sudah seperti itu, peptide ini akan berubah fungsi menjadi morfin yang dapat memengaruhi fungsi susunan syaraf pusat, sehingga timbul gangguan perilaku," kata Nugraheni. ant/kpo


sumber : klik disini